Labuhanbatu — publiknusantara.id. Keberadaan yayasan pendidikan Tunas karya Boarding school di Labuhanbatu menimbulkan persoalan dan layak dipertanyakan, Kamis (13/02/2025).
Pasalnya, keberadaannya dengan sewa menyewa aset pemkab, dieks lahan dan gedung Yayasan Akper Labuhanbatu itu, banyak disoroti masyarakat.
Lahan dengan luas lebih dari dua hektar dan berdirinya beberapa gedung mewah bertingkat dan tidak bertingkat didalamnya, diketahui dari sumber yang berkompeten mengatakan, bahwa nilai sewanya hanya dihargai Rp 130 jt/tahun.
Jika dikalkulasikan dengan nilai sewa tanah (Tanpa Bangunan) per rante, hasilnya seperti berikut ini:
Harga sewa Rp. 130.000.000/tahun, dibagi dua hektar atau 50 rante
= Rp 2.600.000,-/rante/tahun
Dibagi 12 bulan (satu tahun)
= Rp 216.666/rante/bulan
Dan jika dikalkulasikan nilai sewa tanah (Tanpa Bangunan)/per meter, hasilnya seperti berikut ini:
Harga sewa Rp. 130.000.000/tahun, dibagi dua hektar atau 20.000 meter
= Rp 6.500,-/meter/tahun.
Nilai sewa tersebut diatas hanya untuk lahan (tanah) saja, belum termasuk nilai sewa gedung, harga itu dinilai sangat murah dan tidak masuk akal.
Kuat dugaan adanya kong kali kong dalam proses terjadinya sewa menyewa, yang melibatkan mantan pejabat Pemkab Labuhanbatu yang baru saja memasuki pensiun, dan diketahui masuk ke managament sebagai salah seorang pihak pengelola.
Adanya ketidaksesuaian itu membuat pemerhati pendidikan Labuhanbatu (Yang meminta nama dan inisialnya dirahasiakan), meragukan kemampuan dan komitmen management yayasan pendidikan Tunas karya Boarding school untuk meningkatkan mutu pendidikan, seperti yang digadang-gadang di tengah masyarakat.
“Masyarakat Labuhanbatu jangan sampai terkecoh dengan Ansor (Angin Sorga) yang diisu-isukan, SMA Plus lah, Unggulan lah, bagaimana kita mau percaya jika proses di awal saja sudah menimbulkan polemik seperti ini?”, ketusnya.
Pria paruh bayah bergelar Sarjana Ekonomi dari sebuah universitas ternama itu menghimbau, agar para orang tua yang berkeinginan menyekolahkan anaknya di yayasan tunas karya Boarding school berpikir matang dan penuh kehati-hatian.
“Hati-hatilah, jangan sampai anak-anak kita jadi korban kelak, belum lagi katanya harus pakai “uang tonggok”, untuk apa itu?, mau diapain? Cari modal tambahan?, Hal seperti itu tidak dibenarkan, apa regulasinya? jangan sampai menjadi suatu kebiasaan yang salah menjadi suatu kebenaran”, pungkasnya.
Management bisnis sebuah koorporasi sangat penting untuk menunjang sebuah pencapaian aktivitas dalam menjalankan roda perusahaan, dan meraih kepercayaan masyarakat.
Tak terkecuali bisnis sektor pendidikan, karena bisnis tetaplah bisnis yang membutuhkan modal dan management yang baik dan mumpuni.
Terlebih pada sektor pendidikan, dimana pada sektor ini sangat membutuhkan kepercayaan dari sebuah management, mengingat sektor ini melibatkan banyak anak bangsa yang ingin meningkatkan kualitas hidupnya melalui pendidikan.
(M.M)
